Artikel

Buku yang ditulis oleh Mahasiswa IAIN untuk kampusnya

Unduh

Media pers bukan humas kampus!

Kita sering mendengar dan melihat bahwa jurnalis adalah anak kandung demokrasi, artinya bahwa semangat api reformasi ini tidak boleh dibungkam oleh sistem, birokrasi, dan tirani. Media pers kampus itu tidak difasilitasi kampus, semua yang kampus berikan itu memang hak kita, memang hak mahasiswa (rakyat), yang diberikan oleh negara langsung kepada kita, kampus hanya sebagai tangan negara saja. Jadi, secara sistem seharusnya media pers bukan humas kampus karena kampus adalah subjek, tempat yang selalu dicari semua data dan keadaan riil sehingga kesibukan media pers hanya memberitakan realita kampus tanpa sekat ketakutan birokrasi. Sesuatu yang kita tuju yang kita cari data-data nya apakah kemudian kampus ini benar benar bersih dan integritas? Sebagai institusi yang menyalurkan uang negara untuk mahasiswa atau rakyat.

Media pers tugasnya adalah menelanjangi kampus? Karena dengan keberanian idealisme inilah kamu benar-benar akan dijuluki sebagai pembawa kebenaran penegak keadilan. Jangan takut diDO kampus, jangan takut tidak diterima jika menjadi alumni nanti akan kerja dikampus, hidup tidak sesempit daun kelor wahai aktivis.

Rasa-rasanya media pers yang seharusnya menjadi corong demokrasi, menjadi wajah keberanian anak kandung reformasi, yang seharusnya gagah berani mengatakan kampus benar kampus salah sekarang kesannya sudah semacam humas-humas kampus atau bahasa kasarnya ta'mir kampus, hahaha. Ini demi marwah kemegahan media pers kampus, ini demi jati diri pers jati  diri jurnalistik agar tidak menyimpang dari relnya, karena media pers mahasiswa seharusnya melahirkan fakta dan realita kampus, gagasan dan pengetahuan mahasiswa, bukan media orderan yang kapan saja bisa dimanfaatkan oleh siapapun untuk kepentingan apapun. Media pers juga harus mampu melawan hoaks guna mewujudkan masyarakat sehat.

Bangunlah media pers mahasiswa se-Indonesia sudah saatnya kita berani lagi tanpa takut kepada birokrasi, hidup mahasiswa. Baca saja dengan hati tanpa perlu menaruh kebencian agar gerakan kita didasari fakta yang penuh cinta.

 

Realitas Demokrasi?

Mahasiswa apa ini?

Jumlah mahasiswa baru IAIN Pekalongan pada tahun 2021 kurang lebih 2.300, kalau jumlah seluruh mahasiswa se-IAIN Pekalongan kurang lebih 12.000. Terhitung cukup banyak untuk wilayah pendidikan di eks karasidenan Pekalongan. Pertanyaannya, dari 12.000-an mahasiswa berapa yang menjadi aktivis?

Ini tentu PR besar kenapa jumlah aktivis sangat rendah? Karena maju dan tidaknya kampus penentuannya adalah apa budaya kampus tersebut? Apa yang menonjol dalam segi kualitas mahasiswa nya? Intelektual, akademisi, atau prestasi? Ranking berapa di skala nasional kampus kita? Dipercaya oleh pemerintah sebagai agent of change? Dipercaya oleh masyarakat sebagai pejuang Islam moderat?

Kalau melihat mahasiswanya saja masih tanda tanya dalam pergerakan mewujudkan cita-cita kebenaran dan keadilan bagi masyarakat.

Melihat pemilwa dari tahun ke tahun setiap pemilwa hanya dimeriahkan oleh mahasiswa kurang lebih 2200-an saja ketika memilih partai untuk ke sema dan  memilih kandidat calon ketua Dema hanya 1200-an saja, apakah karena calon tunggal atau karena model kampanye dan intrik politik kampus mati? Atau calonnya sudah basi ditelan zaman? dimana puluhan ribu lainnya? Kenapa organisasi kemahasiswaan hanya untaian rangkaian pemilihan dan paripurna saja? Apakah hanya IAIN pekalongan yang apatisme mahasiswa nya begitu nampak? Apakah justru karena calonnya tidak popular bagi kalangan mahasiswa? Atau bagaimana?

Kampus itu kan segerombolan kaum muda yang katanya kemewahannya adalah idealisme? Mana pergerakan mahasiswa? Pemilwa setiap tahun saja rasanya hanya Maba yang menjadi perahan untuk memilih, bukan hajat bersama warga IAIN Pekalongan secara komperhensif menggelora dalam kompetisi mewujudkan ormawa yang penuh visi, menuju UIN pekalongan kami berharap agar ormawa memiliki jiwa besar, mental besar, gerakan besar, sehingga kampus bukan kandang bebek yang ramai hanya ketika pbak dan konser-konser, akan tetapi ramai di sudut-sudut kampus terdengar argumen-argumen kajian, terlihat mahasiwa rutinan latihan sesuai minta dan bakatnya, terlihat ramai pengabdian di tengah masyarakat, aksi-aksi konkrit yang membuktikan bahwa mahasiswa IAIN Pekalongan memiliki peran strategis menyumbang banyak pemikiran bagi agama, bangsa dan negara. Bukan lagi bebek-bebek yang bergerak karena doktrinasi senior saja, arahan dan sentimen media masa saja, akan tetapi bergerak melalui argumentasi yang jelas sehingga kampus bukan tembok yang memenjaraknmu. Sebentar lagi kampus kita akan menjadi UIN, ini adalah harapan dan tantangan besar yang harus dipersiapkan guna dijawab bersama-sama. Pemilwa adalah ajang pesta politik mahasiwa, maka yang paling penting dalam politik mahasiwa bukan hanya sentimen tetapi argumen, bukan hanya startegi tapi juga eksekusi, bukan hanya uang dipanya tapi pengelolaanya, ada banyak pekerjaan yang harus di selesaikan ditengah apatisme mahasiswa yang masih membudaya, budaya UIN apakah akan sama seperti IAIN, Stain atau justru akan kita perparah dengan apatisme saja layaknya tradisi pelajar di  SD. tentu menggerutu bukan solusi tapi langkah konkrit menuju peradaban yang mampu membangun mahasiwa yang dikenal dengan kualitasnya bahwa UIN Abdurahman Wahid bukan jejeran tembok dan angan visi misi, ormawa bukan hanya tentang jabatan fungsionaris saja, tapi pergerakan yang konkrit menyelesaikan bukan problematika internal yang sudah basi yang dijadikan bulan sehari hari.

Selamat menikmati jabatan dan pengurus baru, Tahun 2022 semoga mampu melanjutkan amanat tahun 2021.

Pimpinan apa itu?

Pimpinan apa itu?

Ini hanya dongeng cerita lucu kawan-kawan kepada saya di malam hari ketika ngopi di angkringan kala itu.

Ada yang bercerita seperti ini,

“Pimpinan apa itu?”

Aku sedang berbicara di depan aktivis, tidak tahu malu ngomong sana-sini, singgung sana-sini, tidak tahu mau intervensi sana-sini, hujat sana-sini, ngomong di depan aktivis pasti akan banyak pertanyaan dan pernyataan yang bergulir, karena aktivis menemukan banyak sekali problematika, dinamika, kejanggalan kebijakan.

Tapi kenapa aktivis aktivis justru terdiam hanya senyam-senyum, melirak-lirik, tertawa di hati bak melihat putri sultan terpeleset ke dalam got di tengah kota.

Kenapa aktivis justru diam bahkan hanya menghabiskan snack saja ketika rapat, justru tidak mengkritik isi rapat demi terwujudnya kemajuan sebuah lembaga akan tetapi malah menghujat isi snack yang rapat per minggu tapi snack masih sama, pembahasan masih sama, terbahak melihat lelucon ini semua. Rajin bener pimpinan mu rapat ini, hahaha

Jangan takut dikritik katanya mantan aktivis, hehe.a

Aktivis-aktivis itu terdiam mungkin bukan karena bodoh, bukan karena tidak punya gagasan, bukan karena jumud, bukan karena takut apalagi karena bungkam difasilitasi, diistimewakan dan sebagainya? Jangan sok tahu, coba ditanyakan baik-baik saja, tabayunkan, dikonfirmasi ulang agar tidak menggumpal di dalam otak pemahaman yang salah paham dan disalah pahami itu terus menerus mendarah daging. Aktivis itu kayaknya sudah muak dengan sistem yang tidak jelas ini, arah yang amburadul ini, hati-hati dengan marahnya orang muak.

Kalau tersindir berarti kita belum cukup diri untuk selesai dengan dirinya sendiri. Karena tugas pimpinan adalah mendengarkan aspirasi bukan intervensi, memberikan fasilitas bukan amarah, mempertanyakan bukan  mendikte, mengentaskan persoalan bukan menambah keruwetan, menjadi penenang bukan penghalang. Silahkan jika ingin menjawab tulisan ini jawab saja dengan tegas karena hanya tulisan yang abadi.

 

 

Manifesto Perubahan (Diakletika Pemikiran Pimpinan Muda PTKI) adalah kumpulan karya yang ditulis oleh para alumni pendidikan dan pelatihan kempemimpinan mahasiswa nasional II se indonesia tahun 2021

Berikut link untuk mengunduh buku

Unduh

Road to UIN Abdurrahman Wahid?

Gusdur sapaan akrab KH. Abdurrahman Wahid, Beliau lahir dari kalangan pondok pesantren, siapa yang tak mengenal gusdur? Laki laki putra KH. Wahid Hasyim mantan menteri agama republik Indonesia di kabinet pertama. Apalagi Simbah beliau adalah Hadrotussyaikh KH Hasyim Asy'ari pendiri pesantren Tebuireng sekaligus tokoh Pendiri NU organisasi terbesar di dunia Dan pahlwan nasional. Melihat sanadnya beliau saja semestinya kita sudah tertunduk hormat karena darah biru kepesantrenan sangat melekat terhadap beliau, siapa yang tak mengaguminya? Saya kira tak ada satu orangpun yang dapat membantah kebesaran peran perjuangan Tebuireng dalam andilnya mewujudkan Indonesia merdeka.

Rasanya baru kemarin saja peralihan di tahun 2017 dari Stain Pekalongan menuju IAIN Pekalongan, sekarang sudah gencar saja saya melihat di media sosial kampus tentang hastag hastag #ROADTOUIN.
Ya siapa yang tidak mau ijazahnya UIN? Saya kira semua akan lebih PD jika ijazahnya UIN, Walaupun bukan jaminan tetapi tidak bisa ditambah bahwa dengan UIN inilah semua akan naik level standardisasi dan segala menejemennya.
tetapi mengapa ya? Nama yang dipilih kok Gusdur? bukan tokoh Pekalongan saja seperti KH Syafi'i bin Abdul Majid, Habib Hasyim bin Yahya atau kiai dan habib lainnya yang masyhur dari Pekalongan?
Siapkah ketika gusdur menjadi nama besar kampus rahmatallialamin? Dari segi kurikulum kita harus mengoutputkan semua fakultas mempunyai watak ke Gusdurian? Nama bukan tentang slogan, seperti Rahmatallialamin dan tagline kampus mislanya, mana manfaatnya bagi masyarakat sekitar yang tercermin dari mahasiwa, dari civitas akademika,dari alumni kampus? Yang di cap oleh masyarakat bahwa IAIN Pekalongan adalah pejuang Islam Rahmatallialamin, yang mengedepankan taglinenya?
Pembahasan kurikulum tentang manifesto gusdur saya yakin sangatlah berat, karena gusdur bukan hal yang simpel dipahami beliau sebagai sosok pejuang kemanusiaan saja, akan tetapi didalam darah perjuangannya gusdur memiliki kontribusi andil besar dalam berbagai pernanannya di mata dunia, beliau juga budayawan, jurnalistik,agamwan, politikus, dan masih banyak lagi, yang memang puncaknya adalah gusdur pejuang kemanusiaan.

Saya kira inilah yang perlu dimatangkan dalam ROADMAP Kampus, bahwa substansial nama kampus bukan hanya slogan atau taglinenya akan tetapi himmah dalam mewujudkan cita cita perjuangan tokoh tersebut yang kita pakai sebagai nama kampus.
Kita sama sama menyadari bahwa PTKIN selalu membawa nama tokoh tokoh besar, seperti walisongo misalnya. Harapan kami gusdur yang sangat kami banggakan tidak hanya sebagi jargon akan tetapi ideologisasi yang mapan bagaimana gusdur yang sudah besar dan kita hanya menikmati kebesaran gusdur inilah semestinya harus hati hati dan malu dalam menyusun Skema program kampus kedepan agar kita mampu meneruskan semangat juang tokoh yang kita sematkan dalam almamater.
Salam hormat kepada semuanya selamat bertugas karena kita bertugas sebagai agen perubahan yang dapat mencerdaskan kehidupan bangsa.

Page 1 of 3
We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree