Realitas Demokrasi?

29 Desember 2021

Mahasiswa apa ini?

Jumlah mahasiswa baru IAIN Pekalongan pada tahun 2021 kurang lebih 2.300, kalau jumlah seluruh mahasiswa se-IAIN Pekalongan kurang lebih 12.000. Terhitung cukup banyak untuk wilayah pendidikan di eks karasidenan Pekalongan. Pertanyaannya, dari 12.000-an mahasiswa berapa yang menjadi aktivis?

Ini tentu PR besar kenapa jumlah aktivis sangat rendah? Karena maju dan tidaknya kampus penentuannya adalah apa budaya kampus tersebut? Apa yang menonjol dalam segi kualitas mahasiswa nya? Intelektual, akademisi, atau prestasi? Ranking berapa di skala nasional kampus kita? Dipercaya oleh pemerintah sebagai agent of change? Dipercaya oleh masyarakat sebagai pejuang Islam moderat?

Kalau melihat mahasiswanya saja masih tanda tanya dalam pergerakan mewujudkan cita-cita kebenaran dan keadilan bagi masyarakat.

Melihat pemilwa dari tahun ke tahun setiap pemilwa hanya dimeriahkan oleh mahasiswa kurang lebih 2200-an saja ketika memilih partai untuk ke sema dan  memilih kandidat calon ketua Dema hanya 1200-an saja, apakah karena calon tunggal atau karena model kampanye dan intrik politik kampus mati? Atau calonnya sudah basi ditelan zaman? dimana puluhan ribu lainnya? Kenapa organisasi kemahasiswaan hanya untaian rangkaian pemilihan dan paripurna saja? Apakah hanya IAIN pekalongan yang apatisme mahasiswa nya begitu nampak? Apakah justru karena calonnya tidak popular bagi kalangan mahasiswa? Atau bagaimana?

Kampus itu kan segerombolan kaum muda yang katanya kemewahannya adalah idealisme? Mana pergerakan mahasiswa? Pemilwa setiap tahun saja rasanya hanya Maba yang menjadi perahan untuk memilih, bukan hajat bersama warga IAIN Pekalongan secara komperhensif menggelora dalam kompetisi mewujudkan ormawa yang penuh visi, menuju UIN pekalongan kami berharap agar ormawa memiliki jiwa besar, mental besar, gerakan besar, sehingga kampus bukan kandang bebek yang ramai hanya ketika pbak dan konser-konser, akan tetapi ramai di sudut-sudut kampus terdengar argumen-argumen kajian, terlihat mahasiwa rutinan latihan sesuai minta dan bakatnya, terlihat ramai pengabdian di tengah masyarakat, aksi-aksi konkrit yang membuktikan bahwa mahasiswa IAIN Pekalongan memiliki peran strategis menyumbang banyak pemikiran bagi agama, bangsa dan negara. Bukan lagi bebek-bebek yang bergerak karena doktrinasi senior saja, arahan dan sentimen media masa saja, akan tetapi bergerak melalui argumentasi yang jelas sehingga kampus bukan tembok yang memenjaraknmu. Sebentar lagi kampus kita akan menjadi UIN, ini adalah harapan dan tantangan besar yang harus dipersiapkan guna dijawab bersama-sama. Pemilwa adalah ajang pesta politik mahasiwa, maka yang paling penting dalam politik mahasiwa bukan hanya sentimen tetapi argumen, bukan hanya startegi tapi juga eksekusi, bukan hanya uang dipanya tapi pengelolaanya, ada banyak pekerjaan yang harus di selesaikan ditengah apatisme mahasiswa yang masih membudaya, budaya UIN apakah akan sama seperti IAIN, Stain atau justru akan kita perparah dengan apatisme saja layaknya tradisi pelajar di  SD. tentu menggerutu bukan solusi tapi langkah konkrit menuju peradaban yang mampu membangun mahasiwa yang dikenal dengan kualitasnya bahwa UIN Abdurahman Wahid bukan jejeran tembok dan angan visi misi, ormawa bukan hanya tentang jabatan fungsionaris saja, tapi pergerakan yang konkrit menyelesaikan bukan problematika internal yang sudah basi yang dijadikan bulan sehari hari.

Selamat menikmati jabatan dan pengurus baru, Tahun 2022 semoga mampu melanjutkan amanat tahun 2021.

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree