Media pers bukan humas kampus!

30 Desember 2021
https://lpmmomentum.com/wp-content/uploads/image-53.png

Kita sering mendengar dan melihat bahwa jurnalis adalah anak kandung demokrasi, artinya bahwa semangat api reformasi ini tidak boleh dibungkam oleh sistem, birokrasi, dan tirani. Media pers kampus itu tidak difasilitasi kampus, semua yang kampus berikan itu memang hak kita, memang hak mahasiswa (rakyat), yang diberikan oleh negara langsung kepada kita, kampus hanya sebagai tangan negara saja. Jadi, secara sistem seharusnya media pers bukan humas kampus karena kampus adalah subjek, tempat yang selalu dicari semua data dan keadaan riil sehingga kesibukan media pers hanya memberitakan realita kampus tanpa sekat ketakutan birokrasi. Sesuatu yang kita tuju yang kita cari data-data nya apakah kemudian kampus ini benar benar bersih dan integritas? Sebagai institusi yang menyalurkan uang negara untuk mahasiswa atau rakyat.

Media pers tugasnya adalah menelanjangi kampus? Karena dengan keberanian idealisme inilah kamu benar-benar akan dijuluki sebagai pembawa kebenaran penegak keadilan. Jangan takut diDO kampus, jangan takut tidak diterima jika menjadi alumni nanti akan kerja dikampus, hidup tidak sesempit daun kelor wahai aktivis.

Rasa-rasanya media pers yang seharusnya menjadi corong demokrasi, menjadi wajah keberanian anak kandung reformasi, yang seharusnya gagah berani mengatakan kampus benar kampus salah sekarang kesannya sudah semacam humas-humas kampus atau bahasa kasarnya ta'mir kampus, hahaha. Ini demi marwah kemegahan media pers kampus, ini demi jati diri pers jati  diri jurnalistik agar tidak menyimpang dari relnya, karena media pers mahasiswa seharusnya melahirkan fakta dan realita kampus, gagasan dan pengetahuan mahasiswa, bukan media orderan yang kapan saja bisa dimanfaatkan oleh siapapun untuk kepentingan apapun. Media pers juga harus mampu melawan hoaks guna mewujudkan masyarakat sehat.

Bangunlah media pers mahasiswa se-Indonesia sudah saatnya kita berani lagi tanpa takut kepada birokrasi, hidup mahasiswa. Baca saja dengan hati tanpa perlu menaruh kebencian agar gerakan kita didasari fakta yang penuh cinta.

 

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree