• lauching 2022

Berita

Membaca adalah jendela dunia, kita pastinya tidak asing dengan frasa itu. dengan dasar ingin mengkampanyekan literasi DEMA IAIN Melakukan Pelatihan kepada mahasiswa IAIN Pekalongan, Pelatihan ini diselengarakan di SMK AR Rahman Watusalam. . Disini Mahasiswa diberikan pelatihan sercara intensif oleh 16 pemateri yang ahli dibidangnya.

Disini peserta sekolah literasi dibimbing dari hal paling mendasar hingga ketingkat publikasi. mereka dituntut untuk tidak hanya pandai dalam hal teori namun juga praktik. hal ini diambil sebagai langkah awal dalam menampaki dunia literasi dan kepenulisan yang sangat panjang karna dibutuhkan konsistensi tinggi untuk mencetak para penulis dan akademisi yang berkompeten.

Sebagai output atau keluaran dari acara ini para peserta diberikan tugas untuk membuat sebuat tulisan ilmiah yang nantinya akan dipublikasi sebagai bukti dan bentuk apresiasi atas kerja keras  mereka  

DEMA IAIN Pekalongan bersama dengan beberapa Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus berkerjasama dalam mensukseskan kampanye moderasi beragama yang di usung oleh kementrian agama DEMA IAIN Pekalongan.

Dalam diskusi dimulai  pada 21.30 WIB di Padepokan Ki Ageng Setu, Jenggot, Pekalongan. (21/4) dipimpin oleh Muhammad Eko Priyono, yang merupakan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Petanesia Indonesia. Beliau memimpin diskusi serta memberikan stimulus agar teman teman dari mahasiswa terpantik kedalama diskusi. Pada diskusi kali membawa tema Lawang Kebhinekaan, dengan tagline ‘Sinau Kebersamaan Dalam Keragaman’.

Pak Eko Priyono memantik forum tersebut dengan arti cinta tanah air. Beliau menjelaskan pentingnya persatuan, untuk menghadirkan persatuan dibutuhkanlah cinta karna tanpa cinta, persatuan tidak akan pernah hadir. Menurut beliau cintalah yang menjadi inti dari sebuah rasa nasionalisme, yang disokong oleh semua agama untuk menjaga persatuan.

“Kecintaan daerah kepada kearifan lokal didalamnya ada tradisi dan adat budaya, dalam budaya memjadi benteng ekonomi kerakyatan,” ungkapnya saat menjelaskan penting budaya dalam konsep persatuan, hal ini juga sudah ditanamkan dalam Petanesia Indonesia.

Beliau juga mengutarakan bahwa sejarah merupakan dasar ketika membicarakan persatuan dan kebhinekaan, maupun keragaman. Hingga menghadirkan rasa cinta terhadap Indonesia. “Ketika bicara kebhinekaan tanpa sejarah bulshit, bicara persatuan bulshit” ujarnya.

Mahdy Hanun, Mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) salah satu peserta dalam diskusi tersebut. Dia menanyakan cara menumbuhkan rasa cinta kepada tanah air kepada diri sendiri dan orang disekitar.

Pertanyaan tersebut langsung dijawab oleh Eko, ia menuturkan bahwa kesadaran cinta tanah air akan muncul dengan salah satu program seperti teras moderasi. Tidak berhenti dengan ini saja, namun disalurkan dalam kehidupan.
“Pemuda yang masa bodo bisa dirangkul dengan diskusi ini, diskusi budaya.” ujar Eko.

Forum ini juga dihadiri oleh Habib Abdulloh yang merupakan anggota Gusdurian Pekalongan dan baru saja mengadakan ‘Among Roso’ sebuah program dari Gusdurian yang bekerjasama dengan UIN Sunan Kalijaga, didalamnya menjadi wadah diskusi lintas agama dan kepercayaan. Baginya teras moderasi ini adalah adik dari Among Roso, yang sama membentuk wadah persatuan.

“Sebenernya bagi umat islam adanya, dialog agama sangat menguntungkan,” terangnya ketika menceritakan Among Roso yang hampir sama dengan Teras Moderasi. Teras Moderasi merupakan program anyar di IAIN Pekalongan, dan baru berjalan satu kali. Menurut Riril Widi Handoko, Ketua DEMA-I periode 2021. Program ini untuk menyuguhkan representasi UIN Abdurahman Wahid yang akan digagas kedepan, perlu diberikan stimulus tentang moderasi. Bukan hanya Gusdur sebagai nama yang gunakan, namun juga diejawantahkan betul. Diaktualisasikan dalam pola langkah civitas IAIN Pekalongan.

“Stimulus awal tidak melulu soal persatuan dan kesatuan. Ketika berbicara islam bisa kolektif kolega, menjawab segala hal yang menjadi ancaman bagi negara. Bukan lagi slek antar organisasi,” ucapnya ketika menerangkan tentang teras moderasi, ia juga mengambil contoh Cipayung yang kental akan persatuan antar Ormek.

M. Bahrul Fatikhin, kordinator dalam acara tersebut yang merupakan kementrian agama DEMA-I 2021. menjelaskan permasalahan banjir di awal periode dan loby yang tidak mudah untuk membentuk forum dan mempertemukan. “Karena telah termakan waktu dari bulan februari karena banjir. Bulan maret kita genjot sehingga bisa silaturahmi ke ekstra (Ormek, -Red).” Ucapnya saat memberi sambutan.

Forum tersebut rampung pada pukul 23.13 WIB, dan diakhiri oleh pembacaan puisi karya Habib Luthfi bin Yahya yang dibacakan oleh Eko Priyono.

Muhammad Abdullah Son Haji, anggota PK KAMMI IAIN Pekalongan berharap untuk kedepan acara memperhatikan waktu. Ketika ada waktu yang kosong bisa diisi acara agar tidak menunggu. “Kedepan kalau bisa acara seperti ILC, biar tidak satu arah jadi tidak membosankan juga. Waktu juga jangan sampai dua jam menunggu tanpa diisi acara apapun,” jelasnya.

Acara tersebut dihadiri oleh Ormek Islam yang kadernya berada di IAIN Pekalongan. Antara lain sebagai berikut. PK PMII, PKPT IPNU-IPPNU, PK MATAN, PK KAMMI IAIN Pekalongan. Lebih lanjut acara teras moderasi ini akan berlanjut setiap bulan. Dengan tujuan mengejawantahkan persatuan yang ada dalam sistem sebuah negara.

 

Source:  https://lpmalmizan.com/ormek-pekalongan-soroti-nasinaolisme-dan-persatuan

Pengumuman

Kegiatan

We use cookies to improve our website. Cookies used for the essential operation of this site have already been set. For more information visit our Cookie policy. I accept cookies from this site. Agree